PRAKTEK PARENTING YANG GAGAL DI KENYATAAN... TAPI AKU TETAP AKAN COBA DAN BERUSAHA LEBIH BAIK LAGI

 Liburan anak-anak sudah tiba. Entah apa yang aku rasakan, tapi yang jelas aku lebih suka anak-anak berangkat sekolah agar mereka memiliki ilmu, wawasan, pengetahuan, ketrampilan, aktivitas, dan kemampuan lebih baik dibandingkan hari ini. Jika dirumah? Jujur aku pun tidak tau harus melakukan aktivitas apa padahal banyak hal yang harus dikerjakan terutama pekerjaan domestik yang saya pun enggan mengerjakannya. Kata artis terkenal kita yaitu Nikita willy "that's not my passion".

Jikalau mbak Nikita tidak passion dengan pekerjaan domestik rumah tangga, dia masih dibantu beberapa asisten rumah tangga (art) maupun babysitter. Walau dia berkata bahwa dia tidak memakai baby sitter. Yang jelas sepengetahuan saya sebagai rakyat biasa yang berpredikat ibu rumah tangga fullmom suka liat infotainment kebanyakan artis memiliki baby sitter dan senangnya mereka bisa kaya raya juga seperti mbak lala baby sitter Rafatar anak Raffi ahmad. Masya Alloh. 

Untuk diriku, sebenarnya saat melahirkan Zea , anak bungsu, aku juga menggunakan jasa asisten rumah tangga dimana beliau berumur sudah cukup tua kurang lebih 56 tahun. Tapi gesit dan masya Alloh semua pekerjaan rumah diselesaikan dalam 2-3 jam. Dikarenakan saat Zea berumur 3,5 tahun lebih, nenek art ku terkena stroke. Jadi selama beliau resign sampe Zea sekarang berumur hampir 5 tahun, pekerjaan domestik saya kerjakan sendiri. Dan ya ternyata tidak bisa segesit dan sebersih nenek. Hiks sedih banget kalah ama nenek-nenek. 

Baiklah liburan akan aku rancang beberapa aktivitas agar Fattah anakku yang berumur 10 tahun bisa masak mi, masak telor, nyuci piring, beresin kamar, nyaranin tanaman, ngasih makan kucing, nyapu dan ngepel, melipat pakaian, dan nyuci baju pakai mesin cuci sekaligus menjemur.  Untuk Malik yang berumur 7 tahun...hmm enaknya dia jemurin handuk, buang sampah, nyapu dan ngepel, kasih makan kucing gantian ama fattah, memasak telor dan mi. Kalau Zea sepertinya yang simpel aja misal beresin sendal dan sepatu di depan rumah, merapikan boneka dan bantal, membersihkan sampah dan membuang sampah di tempatnya. 

Oke aku bertekad bisa bisa bisa membuat anak-anak aku mandiri dan mampu melakukan pekerjaan domestik rumah agar pekerjaan aku lebih ringan dan kewajiban domestik ini memang adalah kewajiban bersama semua anggota keluarga bukan hanya kewajiban saya semata. Untuk suami, saya coba minta tolong untuk menyikat/membersihkan kamar mandi, memperbaiki sepeda, menyiram tanaman, membersihkan kotoran kucing di pasir kucing, mengasah pisau agar tajam saat digunakan. 

"Bismillah semoga Alloh memberikan kemudahan. Aamiin ya robb. " Doaku sebelum memulai semua ini. 

Aku memanggil fattah " Mas, sudah selesai main robloxnya kan? Bisa mama Minta tolong dong kamu nyuci piring? "

Fattah menjawab "aaa mamah. Aku mau nonton TV"

Aku pun membujuk Fattah "ya udah mama ajarin mau gak? Kan biar fattah bisa nyuci piring dan bisa hebat melakukan apapun selain game roblox". 

Fattah dengan enggan mengikuti langkah saya. Dan mulai mencoba cuci piring. " Mah susah ini buka keran model begini. Keras banget dan tangan aku jadi sakit saat memutarnya. Tanganku juga  licin rasanya. Mamah aja plis yang nyuci piringnya. Aku gak mau dan gak bisa mah. Nanti kalau aku mecahin piring, mamah pasti marah kan". Fattah mulai merengek. 

Hati saya sedih dan kecewa. Tapi saya harus tega terhadap Fattah. Dia sudah 10 tahun tapi untuk skill mencuci piring dkk belum bisa. Dan jika apa-apa harus mama nya, saya sebagai mama nya kewalahan. Saya membentak Fattah agar tidak mengeluh dan merengek. Saya pun memberikan pilihan ke Fattah lebih milih  nyuci piring atau pergi belanja sayur dan membeli 3 cup es teh yuyu di tetangga? (Ini jaraknya cuma 3 menit jalan kaki alias deket semua). Karena Fattah adalah tipikal introvert, maka dia mau tidak mau memilih untuk melanjutkan mencuci piring. 

Saya memanggil malik. "Malik sini lik, tolong bantu mama goreng telor ya sayang. Kamu bisa kan pecahin telornya? ". 

"Baik mamah. " Jawab malik

Dalam hati "Ya Alloh, jika selalu semudah ini respon anak dalam menjawab dan membantu saya betapa indahnya dunia. Terharu banget karena malik dengan sigap mau ceplok telor. Disini pun aku berkata " Mas, itu liat malik sudah bisa ceplok telor loh. Walau gak berani angkat telor dr minyak kalau sudah mateng. Tapi kan dia mau melakukannya".

"Sebenernya aku bisa tapi ogah aja mah". Jawab Fattah

Ya Alloh anak aku.... Pengen nangis karena kaget dengan sikapnya yang berubah. Dulu penurut dan tidak melawan kata saya. Sekarang astaghfirullah. "Tuh Zea gak ngapa-ngapain mah? " Tukas Fattah

Lalu aku meminta tolong ke Zea " Zea boleh tidak sampah dari jajan yang kamu makan barusan dibuang ke tempat sampah? ".

"Gak ah mah. Males. Ogah. Mamah aja! "Jawab Zea dengan muka polosnya

Bagiku seharusnya lucu karena muka polos tapi tengil banget jawabannya tapi karena aku tipikal spaneng, sedang menahan rasa kecewa, kaget dan sedih, apa-apa harus dilakukan, dan sebaiknya kalian nurut, tapi berasa disepelekan akhirnya aku marah-marah k Zea. Zea pun nangis kencang dan lama hampir sejam. Semua takut padaku karena melihat aku sudah mulai marah-marah dimana jika 1 anak dimarahin biasanya anak yang lain kecipratan omelan dan si Fattah juga mau tidak mau menyelesaikan pekerjaannya setelah itu makan sarapan bareng malik yang sudah menyelesaikan goreng ceplok telornya. 

Ya Alloh aku kenapa sekarang mudah marah. Anak sekecil Zea memang masih masanya egois, malesan, manja, cengeng dan nuntut jajan dan nuntut semua harus diurus ama mama nya. Tapi aku entah kenapa aku gak mau Zea menjadi pribadi seperti itu. Aku melihat Zea yang menurut aku sudah bisa melakukan pekerjaan seperti makan sendiri, pakai baju sendiri, beli jajan sendiri, jalan sendiri sudah mampu. (Mandiri karena saat kuliah bunda sayang ibu profesional, anak yang saya ajak kontribusi selama praktikum perkuliahan dalam membuat jurnal seminggu berturut-turut adalah Zea). Tapi saat dia sedang manja dan minta tolong padaku dan kebetulan saat itu aku sedang sibuk beberes atau sedang fokus handel yang lain dan butuh konsentrasi yang besar, yang terjadi adalah aku marah. 

Nanti saat mas Catur sudah pulang kerja, habis makan aku akan bertanya baiknya gimana. Hmm itu ide bagus. Terutama perkara didik dan nasehat ke anak-anak. Mereka tidak memperhatikan omelan mama nya dan malahan mampu melawan balik kata-kata mamanya. Aku yakin, mas Catur sebagai ayah ketiga anak-anak ku pasti mau menasehati,  membujuk dan sounding mereka agar mau membantu mama bekerja membereskan rumah. Saling akur dan bantu membantu satu sama lain. 

Dan ya, alhamdulillah berkat bujukan nasehat dan pendekatan ayahnya, anak-anak mulai mudah menuruti kata-kata saya dan mau membantu saya. Suatu ketika saat kita semua tidur malam. Ternyata Fattah tidak bisa tidur hingga larut, dengan alasan memang tidak bisa tidur. Alhasil dia gabut dan saat itu tanganya melipat baju-baku ditumpukan yang menggunung selama seminggu. Rasanya aliran hangat menyerbu relung hati,  sekejap mata terasa panas dan melelehlah air mata. Masya Alloh ternyata Fattah tanpa disuruh mau loh lipetin baju walau hanya beberapa baju dan celana. Masya Alloh bak mimpi  walau tetap kecewa lagi melihat hasil lipetan bajunya tapi sudah mending dan not so bad oke. 🥰

Suamiku berkata "menjadi orang tua itu tidak mudah. Harus sabar. Tidak marah-marah dan bentak. Dibujuk dan diajak ngobrol kan enak mah. Tidak disuruh, diperintah, diomelin. Siapa yang mau seperti itu, ayah juga gak mau diperlakukan seperti itu. "

"Maaf ya ayah (tiba-tiba air mata pun meluncur deras). Aku pengen anak-anak mampu. Tapi ternyata aku yang tidak mampu mengontrol emosi ku. Aku berterima kasih karena ayah sudah mau menasehati dan membujuk anak-anak agar mau bantuin aku mengerjakan pekerjaan rumah. Jujur lelah yah. Tapi aku mau nyari pembantu yang daftar muda-muda dan ada juga yang janda. Maaf yah aku tidak mau jika ada wanita lain dirumah kita kalau bukan yang seperti nenek. Aku pun sudah berusaha bujuk dulu, ngajarin dulu anak-anak kita. Tapi kalau responnya kaya Fattah ngelawan perkataan aku, malik awal mau yah disuruh nyeplok telor tapi pas disuruh mandi dan masukin baju ke mesin cuci, Tiba-tiba ekspresinya berubah ketus ngambek dan nangis juga. Ya Alloh, ini kan udah siang dan apa ya, masa gak mandi gitu loh yah". Penjelasanku pada suami

"Nanti anak-anak kalau mau mandi bakalan mandi. Sudah mama gak perlu terlalu dipikirin. " Kata suami untuk menenangkanku yang mulai nangis sesenggukan. 

"Aku merasa aku di sepelein ama anak-anak. Semua harus aku lakukan sendirian. Mereka dengan mudah dan enteng sekali menyuruhku saat aku sudah mau bersiap tidur, menyuruhku saat aku sedang mau makan, dan menggangguku saat aku harus ngaji dan melakukan sesuatu. Aku merasa kapan untuk diriku sendiri. Kapan? Kenapa harus aku semua sedangkan juga disitu ada ayah yang sedang main game ML! "Hati kecewa dengan suami karena kerja pulang ke rumah main ML dan makan. Kadang bercanda ama anak khususnya Zea. Zea adalah putri kami satu-satunya yang paling disayang oleh suamiku. Dan jujur aku sama Zea seperti anak kandung dan anak tiri. Hiks aku juga pengen disayang dibujuk kalau nangis, di pukpuk saat sedih ayah ". Disitu air mata semakin deras, hati semakin sesak, dan jiwa merasa ingin berteriak. 

"Ya Alloh apapun yang aku lakukan seperti tidak benar dan tidak ada yang berhasil. Aku kecewa, aku merasa aku sudah melakukan dengan sepenuh hati tapi kenapa tetap salah dimata orang lain. Dan ternyata lailahailalloh subhana inni kuntu minadzdzolimin". Pekerjaan yang baik dan jelas berpahala menjadikan buruk jika itu adalah bukan prioritas. Anak + rumah dan orang lain+wakaf quran pastinya jika ditanya mana prioritas untuk fullmom sepertiku, jawabannya adalah fullmom=mengerjakan pekerjaan domestik+ urus anak. Tapi entah kenapa aku terlalu senang dan fokus ke orang lain dan wakaf quran. 

Yah semua itu harus aku tanggung resikonya. Resiko yang paling menyakitkan adalah dicuekin, dicemberutin, di silent treatmen, dan tidak dianggap oleh suami. Sampai-sampai tadi pagi saat kucing kami miwmiw yang dari luar menerobos masuk rumah, dipanggil dengan mesra dan sayang, sedangkan aku? 

Hah... Selain menjadi ibu yang gagal.. Aku sadar bahwa aku juga jadi istri yang gagal. Tapi... Sebaiknya aku berusaha. Walau aku tau, hak suamiku jika ingin berpisah denganku dengan alasan aku tidak mampu dan selalu gagal dalam melakukan segala hal. Aku merasa yah bagaimana lagi, aku hanya bisa melakukan yang aku bisa, melakukan sesuai apa yang aku pikirkan, melakukan dengan cara aku, dan fokus pada yang aku lakukan saat ini apalagi sedang asik-asiknya. Hehehehe.... Tapi resikonya ternyata ya seperti tadi. Hiks... Mau bahagia versi diri tapi jika nilai buruk jadi merasa ahhhh... Dan tangis pun tetap berlanjut hingga hati plong mencurahkan segala perasaan. Alhamdulillah ".

Mungkin aku ibu yang gagal hari ini. Tapi besok aku akan coba lagi. Bukan jadi ibu yang sempurna menurut orang lain dan diri ini. Cukup menjadi ibu yang mau belajar dan berusaha lebih baik lagi ke depannya. Karena rumah ini tidak butuh rapi, bersih, dan indah dipandang mata. Tapi butuh aku yang utuh sebagai diri sendiri. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026″ dan link ke web ipedia https://www.ipediaberitabaik.id





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luka innerchild

Pelajaran jarak jauh hari kedua

Malik Ketabrak motor